Tampilkan postingan dengan label Kampung Ganjil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampung Ganjil. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014

Banyak Yang Bertopeng Di Kehidupan Kita

|0 komentar
Setiap orang bergaul dengan sesamanya pasti ingin dicitrakan baik layaknya tokoh. Tidak hanya di kampung, dikantor, diklub hobi, tempat arisan dan lain sebagainya. Manusia menginginkan kesan baik diantara sesamanya. Kita hampir sulit menilai perilaku tiap individu meski kita bisa lihat tanda-tandanya.

Ya, bila kita jeli kita bisa menangkap seseorang itu cerdas, jujur, pelit, keras, kasar dan watak lainnya. Meski begitu ada beberapa orang yang cukup pintar menyimpan kekurangannya. Ketika bertemu banyak orang, dia akan sangat rapi menyimpan kekurangan atau perilaku negatif dengan rapat. Meski tidak mudah, banyak yang melakukannya. Di kampung Ganjil, hal ini juga terjadi. Kalau soal kikir mudah didapat ketika ada iuran atau tambahan kegiatan, pasti mereka-mereka saja yang bereaksi.

Beberapa hari lalu pak Muhammad mendapati cerita dari pak Untung tetangganya yang kini berjualan kaset VCD. Dulu memang sempat menjadi pedagang HIK tapi karena berniat pindah rumah, otomatis HIK yang menempel dirumahnya dijual ke RT. Dari jualan VCD tersebut, nampaknya melayani juga penjualan video dewasa.

Menarik mendengar ceritanya tentang taktik orang bertanya soal video ini. "Ada yang bilang ada film dewasa mas?, ada film bagus atau film unyil" cerita pak Untung dengan semangat. Kesamaan penanya cuma satu, nanya bila tidak ada pembeli lain. Mereka kan malu kalau sampai ketahuan cari video gituan. Rupanya beberapa diantara peminat video dewasa, beberapa tetangga turut menjadi pelanggan. Setidaknya 3 atau 6 hari sekali ada yang datang membeli dari pak Untung selepas malam ketika sampai rumah.

Suatu ketika pak Untung sms ke pak Muhammad minta nomor pak Parto. Dari perbincangan singkat terungkap ternyata pak Parto membawa kaset berjumlah sekitar 30buah tanpa dibayar. Mayoritas film dewasa hanya ada beberapa yang berupa lagu. Saat membawa kaset dari lapak pak Untung selalu beralasan "Nanti tak bayar, tak bawa dulu ya" dan tidak pernah kembali. Entah rusak, macet, tidak bisa tampil gambarnya namun juga tidak dibayar.

Pak Muhammad menyarankan pak Untung supaya tegas saja apalagi tingkat ekonomi pak Parto lebih tinggi. Maklum istrinya pejabat penting perusahaan listrik negara di kota. Seperti biasa, pak Untung merasa gak enak pun ketika pak Muhammad memberi trik mempermalukan pak Parto atau membuat dirinya jera. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan. Lha pinjam koq barang dagangan, ya bangkrut apalagi tidak membayar dan tidak pernah dikembalikan. Sebuah cerita yang sangat mengejutkan. Pun ketika ditagih hanya dikembalikan 7 buah tanpa uang dari puluhan kaset sebelumnya.

Alasan yang dikemukakan banyak yang tidak ditonton atau bahkan MP3 dibiarkan di mobil barunya karena ga bisa dikeluarkan dari VCD mobilnya. Kekagetan ini mengingatkan pak Muhammad yang secara tak sengaja terkoneksi dengan folder laptop pak Sari yang di folder utama tertulis pekerjaan namun ketika iseng coba di klik isinya ratusan film tak senonoh yang terbagi atas ukuran file. Dipikir pak Muhammad yang sering melihat pak Sari hingga larut malam ya mengerjakan lemburan tugas kantor. Tapi rupanya tidak seperti keliatannya.

Kamis, 15 Mei 2014

Hati-hati Dengan Hidupmu

|0 komentar
Dalam menjalani kehidupan, semua tak pernah lepas dari Allah SWT. Meski demikian tak semua orang percaya adanya begitu. Orang-orang Indonesia yang dilahirkan mestinya percaya atas kebesaran Tuhan namun menafikkan atau meragukan adanya Tuhan. Mereka beralih mempercayai bahwa yang bisa membuat mereka hidup hanyalah uang, harta atau pekerjaan. Hidup sejatinya soal uang dan tidak terkait dengan saudara, tetangga, kerabat, rekan kerja dan juga Tuhan. Miris betul melihat orang-orang begitu.

Mereka masih ke tempat ibadah, masih berdoa, masih mengucap lafal pemujaan tapi perilaku, sikap dan tutur katanya sungguh tak meyakini adanya Tuhan.

Akhirnya orang-orang begini tidak akan dicatat atau malah kena teguran. Di kampung ganjil sudah banyak kejadian model begini. Sayangnya teguran Tuhan tak dimaknai sebagai teguran. Tahun ini sepertinya teguran itu menghampiri pak Ren. Pengusaha sewa mobil ini begitu jumawa, sombong, tak pernah mempedulikan tetangganya. Banyak bukti menunjukkan hal itu. Seorang tetangga mendengar sendiri pak Ren membeli mobil baru "Biar tetangga pada ga bisa ngomong kalau aku memang kaya. Terus mau apa mereka" ucap pak Ren pada tetangga RT.

Dilain kesempatan ada tetangga yang mau menyewa (tentu dengan membayar) mobilnya untuk bepergian. Permintaan itu ditolaknya dengan alasan yang dibuat-buat padahal pak Unca akan membayar sesuai tarif. Sama sekali tak meminta diskon sebagai tetangga. Dulu waktu pak Wijo membangun rumahnya, tumpukan pasir diseberang rumahnya diprotes.Namanya diperumahan saat ada tetangga membangun ya pasti kena dampaknya. Tetangga lain memaklumi karena bisa jadi membenahi rumah akan bergiliran.

Ribut-ribut terakhir ya mengenai parkir motor atau tempat duduk pelanggan HIK di jualan pak Untung dipersoalkan. Juga cara memanasi kendaraan pak Sahid yang dianggap asapnya masuk rumah. Terpaksa pak RT mengajak pak Muhammad dan pak Ardi sebagai sesepuh kampung untuk mencari solusi terbaik. Lobi dilakukan dengan penuh perdebatan dan mampu diakhiri dengan baik.

Sikap-sikap pak Ren inilah yang sering jadi perbincangan warga. Mereka tidak nyaman bahkan dengan adanya pak Ren. Sering muncul suara sumbang atas dirinya. Nah suara-suara itu seakan menjelma menjadi doa pada Tuhan.

Doa atas masyarakat itulah yang kini seakan dikabulkan Tuhan. Pak Ren menghadapi kesulitan ekonomi. Beberapa mobilnya telah dijual, namanya diblack list di bank hingga rumahnya dijual. Rumah itu telah kosong, sepi dan berdebu. Tuhan memang selalu mendengar doa masyarakat.

Selasa, 15 April 2014

Doktor Yang Menderita Kehidupannya

|0 komentar
Kapasitas seseorang itu bisa dilihat dari kemampuannya mengeluarkan gagasan dan berdiskusi. Dalam sebuah media online keroyokan yang sering saya baca, Nararya mengupas berbagai hal yang berkaitan dengan filsafat. Disitulah mudah difahami, bagaimana kita mengukur kapasitas seseorang. Cuma yang namanya manusia itu bawaannya memang nafsu. Sehingga tarikan sombong, tinggi hati, besar kepala, sok pintar dan lainnya itu ada. Coba kita amati sekitar kita, memang begitu.

Dalam kehidupan sehari-hari, dijaman yang sudah modern masyarakat dihinggapi perasaan ingin diperhatikan orang lain. Akibatnya ya meninggikan diri sendiri. Mengaku-aku kaya, pintar, bertitel atau kehidupannya sukses. Usahanya dimana-mana, gagasannya selalu brillian dan diakui orang, anaknya meraih cumlaude atau nilai sempurna serta kebohongan lain. Bertemu dengan orang semacam ini memang mengherankan dan secara pribadi sangat kasihan. Dia sebenarnya tidak mampu apa-apa, krisis identitas yang butuh pengakuanlah yang menyebabkan begitu.

Entah rasa itu muncul dari mana, seseorang mengaku punya tanah berhektar-hektar diluar kota yang dipenuhi salak, durian, rambutan atau buah lainnya. Anehnya saat musim buah itu, membawa ke kantor buah durian tak sampai sepuluh biji dan cuma sekali.

Mengaku bergelar PhD disebuah universitas di Amerika dan bukti kelulusannya sudah dirobek-robek karena marah tidak diterima bekerja. Lho kalau beneran begitu, gagasan yang di otaknya jauh lebih bernilai dibanding selembar kertas. Wong berbicaranya saja ga runtut, buat konsep ga bisa, menulis gagasan saja 1 paragraf 1 titik bagaimana tidak dipertanyakan gelarnya? Tidak pernah sekalipun terdengar berbicara dalam bahasa internasional. Cara lain untuk melihat beneran atau tidak, ya pertemanannya di jejaring sosial.

Siapa yang berkomentar atas status seseorang cukup memperlihatkan siapa orang tersebut, bagaimana pengaruhnya, siapa saja temannya dan bagaimana lingkungannya. Kapasitas seseorang ditunjukkan dari pola pikir, sikap dan argumentasinya yang soundness. Bukan komentar yang seakan-akan nyambung tetapi berulang kali gagal paham. Perdebatan yang muncul seringkali diakhirinya dengan emosi, penghindaran atau main telikung dibelakang (memfitnah).

Saya tahu dia sangat menderita. Seandainya apa adanya tentu saya bantu, tak usahlah sok.

Mengaku kaya karena memakai mobil, hp berharga mahal, laptop maunya setahun ganti ternyata semua bohong. Meski cicilannya lunas eh pajaknya sudah 3 tahun ngeblong. Demikian juga laptop dari hasil ngibul sana sini. Fungsi laptop itu ya hanya alat pamer wong bisa di cek di file yang disimpannya juga terbatas. Alasannya entah ter delete, sempat di install atau dokumen dipinjam temannya.

Dalam berdiskusi yang muncul koq argumen wong opini saja sering tak mampu dia keluarkan. Lebih banyak apologi yang dikemukakan. Pembelaan dan pembenaran atas apa yang dipikirannya. Anehnya masih ada yang mempercayai apa yang diungkapkannya di Kampung Ganjil. Ya tidak semua warga meski ketika di sesat pikir itu beranjak, warga ramai mempertanyakan pola pikirnya.

Senin, 16 Desember 2013

Pak Rent Kena Teguran Tuhan

|0 komentar
Kampung Ganjil sudah lama teduh dan tenang. Kehidupan berjalan normal saja dan saat mulai musim hujan kerja bakti digalakkan kembali. Pak Utomo masih menjabat Ketua RT memasuki 2 periode dan semuanya masih baik-baik saja. Ada sih riak-riak kecil namun solidnya kepengurusan menjadikan mereka berjalan kompak. Dukungan pak Ardi sebagai wakil ketua RT dan pak Muhammad di sie pembangunan menopang kesolidan pengurus.

Setelah membenahi selokan, pak Utomo memprogramkan pembuatan gudang RT yang sudah direncanakan 3 Ketua RT sebelumnya dan gagal. Kendalanya soal design dan uang. Namun berkat kerja keras dan usaha nyata akhirnya terbangun dengan swadaya warga. Separuh lebih biaya pembuatan gudang disokong warga. Meski ada suara-suara mencela, pengurus bekerja cukup solid. Sempat ada pedebatan tentang hari kerja antara Ketua RT dengan pak Kabar yang menyebabkan pak Kabar mogok memantau. Dengan trik tasyakuran tengkleng, cairlah hubungan mereka.

Lorong Kampung Ganjil
Sepertinya pak Utomo pandai membagi peran diantara pengurusnya. Bagi yang membandel akan ditangani pak RT dan pak Ardi sebagai sesepuh. Sementara taktik mencairkan dan strategi membuat warga berpartisipasi banyak disokong pak Muhammad. Pengurus lain cenderung sebagai implementator saja, apa yang diperintahkan ya jalan. Disisi lain saat membangun usaha pak Rent sedang ramai-ramainya. Dia menjanjikan membantu asbes dan patungan dengan pak Wijo agar atap pos ronda, hik dan gudang terlihat rapi.

Awalnya pak Utomo tidak setuju karena waktu dan biaya pasti membengkak. "Wah bisa dikomplain warga nih kalau lepas tenggat" tukas pak Kabar yang dipercaya pak Utomo memantau pembangunan gudang. Pusing juga pak Muhammad memikirkannya sebab ada 2 orang yang di awal tidak berencana membantu tiba-tiba bersedia. Lantas pak Utomo didekati dan diberi penjelasan aspek kerapian, waktu dan mensiasati budget. Deal, pak Utomo sepakat.

Pak Wijo membayar biaya asbes sedangkan sisanya akan dibayar pak Rent pasca kepulangan dari kerjaan driver di Bali. Sementara biaya disupport oleh kas RT. Namun pak Muhammad tidak mau menagih dengan alasan kesadaran diri saja sebab atas usulnya sendiri. Seminggu hingga sebulan tak ada dana masuk hingga kini. Rupanya Tuhan Maha Adil, ditegurlah pak Rent dengan menyepinya order usaha dia. Dari 3 mobil yang hilir mudik dirumahnya, kini tak tersisa 1 mobilpun.

Ah ternyata kita benar-benar harus hati-hati apalagi berjanji didepan banyak orang tidak ditepati. Apalagi janji itu untuk membangun fasilitas umum. Teguran dari tuhan malah merepotkan pak Rent beserta keluarganya. Dengan kejadian ini warga berintrospeksi bersama agar dimasa depan tidak gampang berjanji. Teguran Allah itu karena kesalahan kita sendiri dan menjadi pembelajaran penting.

Kamis, 31 Oktober 2013

Masyarakat Kita Memang Banyak Yang "Sakit"

|0 komentar
Dalam sebuah rapat Rt dikampung, seksi sosial ketika dimintai laporan pengeluaran kas untuk menjenguk tetangga yang sakit memberi pernyataan yang cukup mengejutkan. Dia mengatakan “Alhamdulillah secara fisik warga kita sehat-sehat saja, tapi secara fisik lho ya” ujar pria yang bekerja sebagai editor penerbit ini. Karuan statement ini menimbulkan senyum, tertawa kecil hingga ada yang menundukkan kepala warga yang hadir.

Bagi masyarakat Jawa, ungkapan kalimat diatas memang mengandung sindiran yang luar biasa halus namun mendalam. Kami sebenarnya tinggal diperumahan dan secara rutin ada iuran bulanan. Namun seringkali untuk memelihara lingkungan, peringatan hari besar, menjenguk tetangga yang sakit kadang harus ada biaya ekstra. Maka dari itu disepakati ada jimpitan yang besarannya terserah warga mulai Rp 100 hingga tak terhingga. Yang mengambil jimpitan juga digilir pada malam hari. Ini sebagai upaya pengawasan lingkungan, keakraban warga dan pemasukan kas tambahan.





Namun dalam prakteknya yang mengisi jimpitan hanya 60-70 persen saja dan petugas tiap malam yang aktif juga tidak sampai separo dari yang dijadualkan. Meski sudah diingatkan tetap saja tidak berubah. Beberapa individu sepertinya menganggap bahwa bertemu dan bercengkerama dengan tetangga lain cuma menghabiskan waktu saja. Padahal pos ronda diramaikan dengan pedagang HIK (warungan khas Solo) yang dijajakan tetangga sendiri buka hingga malam. Disitu tak ada miras, judi, atau kegiatan yang melanggar.


Sesekali kami mendapati cerita serupa di Rt lain yang meski kebanyakan berasal dari desa di seputaran Solo namun rasa guyub (merasa dekat seperti saudara) sudah mulai tercerabut.Perumahan kami juga bukan perumahan elit namun perumahan mewah (mepet sawah). Seorang tetangga bercerita bahwa partnernya jarang masuk kantor meski di gaji besar. Yang lain bertutur, lunturnya simpati dan empati. Buktinya ada teman yang melahirkan atau sakit juga tak berkunjung.

Atau cerita lain mengenai seseorang yang suka menjelek-jelekkan teman sekantornya ke pihak luar padahal si pencerita sendiri ke kantor juga seminggu sekali. Alasannya mendapat tugas lain dari kepala daerah yang jauh lebih penting. Ada pula tetangga kami yang punya mobil 3 (maklum memang penyedia jasa sewa mobil) kalau diajak nengok tetangganya sakit hampir lebih suka nunut mobil lain dibanding mengeluarkan mobil sendiri meski mobilnya lebih bagus dan ndongkrok dirumah.

Padahal manusia itu memiliki jiwa bawaan yakni jiwa sosial, namun bila sedikit demi sedikit jiwa a sosial dipupuk seakan-akan menjadi sanggup hidup tanpa tetangga sekeliling. Pun demikian dengan sumbangan atau bantuan pembangunan publik yang akan digunakan secara bersama-sama. Seringkali warga menilai bila menyetor dana maka dirinya langsung akan jatuh miskin meski hanya menyumbang Rp 10.000 hingga ratusan ribu. Dalam ajaran agama yang mayoritas dianut warga difahami bahwa sumbangan atau bahasa lain shodaqah sejatinya tidak pernah hilang.

Bantuan itu justru akan dilipatgandakan oleh Allah SWT baik didunia maupun di akhirat. Hanya kebanyakan masyarakat sudah menganggap apa yang berlaku didunia itu semua serba jual beli. Bila menyumbang sesuatu ya harus ada timbal balik yang langsung harus diterima. Padahal seringkali bantuan kita itu diganti dengan bentuk lain yang nilainya jauh diatas uang yang kita donasikan. Sebut saja nilai kesehatan yang kita miliki sebenarnya sudah ratusan miliar. Sayangnya banyak yang tidak menyadari. Entah sampai kapan masyarakat kita akan terus sakit begini.

Senin, 10 Juni 2013

Keluhan Aneh Dari Pak Ren

|0 komentar
Perilaku orang memang kadang aneh bahkan terlalu aneh. Utamanya masyarakat desa yang pindah ke kota tetapi tinggal di perumahan pinggiran seperti di Kampung Ganjil ini. Mereka lebih suka mengganjilkan sesuatu daripada menggenapkan. Arti ganjil disini bukan bilangan tetapi sesuatu yang tidak semestinya akan ditonjolkan dibanding menghilangkan atau tidak mempersoalkan hal tersebut. Misalnya saja tiap ada acara sumbangan relatif tetap tiap kepala keluarga.

Tetap dalam arti sesuai yang diputuskan panitia. Entah mau ganti tahun, entah mau acara lebih ramai, entah konsumsinya wah, entah banyak uang, entah bensin sudah naik, entah jadi ketua panitia, entah jadi ketua Rt ya tetap segitu. Jadi jangan berharap berlebih. Bisa jadi saat kerja bakti minggu pagi entah mau ke gereja, entah malah, entah ada undangan jagong, entah sakit, entah tidak dengar pengumuman ya tidak mau keluar. Bila perlu yang kerja bakti yang salah.

Kali ini keganjilan lain muncul dari salah satu jagoan ganjil yakni pak Ren. Entah ada masalah apa sebenarnya tiba-tiba mempersoalkan warung pak Untung serta parkir mobilnya pak Sahid. Kalau warung Hik pak Untung dipersoalkan banyak hal mulai posisi warung ditanah umum, yang bicaranya keras tanpa kenal waktu, volume tv, kendaraan yang parkir hingga mobilnya yang tak bisa masuk ke garasi. Sementara soal pak Sahid, dipersoalkan parkir yang melebihi batas rumah dan asap yang memasuki rumah. Keluhan itu disampaikan pak Ren pada pak Rt dirumah pak Rt.

Ilustrasi
Kemudian guna menjaga agar masalah tersebut tak melebar, pak Rt yang kini dijabat pak Utomo mengajak pak Muhammad dan pak Ardi berembug. Keduanya dianggap cukup netral untuk membahas soal ini. Diputuskan tentang warung pak Untung tetap boleh bertahan namun parkir dan volume diatur. Menurut pak Muhammad, dulu pak Untung meminta ijin jualan saat rapat Rt dan semua menyetujuinya. Jadi kalau mau memindahkan ya harus melalui rapat. Pak Rt juga sudah menjawab tidak bisa memindah karena menyangkut nafkah harian.

Sementara soal parkir akan disampaikan ke pak Sahid. Begitu dikomunikasikan dengan pak Ren, bukannya menerima malah bersilat lidah. Ada beberapa ucapan yang disangkalnya termasuk soal memindahkan warung serta asap mobil pak Sahid yang memasuki rumahnya. Mereka bersepakat akan saling membantu menyelesaikan dilingkungan masing-masing. Rupanya pak Sahid dan pak Untung sudah kelewat mendengar dan kemudian di persoalkanlah pernyataan pak Ren di rapat Rt. Apalagi ada beda informasi soal penggeseran warung serta asap mobil pak Untung.

Akibatnya pak Ren harus menanggung malu sendirian di forum itu serta meminta maaf. Warga menerima soal volume tv, pembicaraan dan parkir yang tidak boleh menghalangi mobil pak Ren masuk ke garasi. Alasannya sopir-sopir dia banyak yang komplain. Padahal selama ini mobil masuk ke garasi ya biasa saja, lancar. Kalau toh pun harus maju mundur ya memang karena lokasi itu tidak lebar. Apalagi mobilnya kijang Innova yang memiliki bodi cukup besar. Itu belum lagi malah menambahi anaknya susah tidur bila warung ramai.

Namanya juga kampung ganjil jadi kalau tidak ganjil malah aneh. Pak Ren ini sukanya parkir mobil di jalan umum eh malah mempersoalkan warung pak Untung. Alasan asap mobil pak Sahid masuk rumah sementara rumahnya sangat tertutup sebab menggunakan AC. Volume tv dan warga yang jajan di pak Untung mengganggu anaknya istirahat, disisi lain anaknya bila bermain bola di depan rumah pak Ardi ya dimaklumin saja. Pak Ardi menyarankan agar sesekali pak Ren juga keluar, jajan dan ngobrol bareng sehingga enak.

Toh banyaknya warga menambah guyub, kebersamaan dan rasa kekerabatan. Bagi pak Wijo, kalau warung pak Untung libur dirinya sedih sebab suasana jadi sepi. Kondisi ini bisa mempengaruhi keamanan lingkungan sekitar. Terbukti beberapa tahun terakhir warga di Kampung Ganjil tidak ada yang merasa kehilangan walaupun tak ada ronda. Ah dasarnya saja hati pak Ren sudah ganjil jadi tidak seperti pada umumnya malah kalau ramai dia tidak suka. Bukannya mobil yang 3 biji itu jadi aman? Tidur jadi nyenyak? Oalah pak Ren... pak Ren....

Selasa, 29 Mei 2012

Saat Orang Pelit Ajak Piknik

|0 komentar
Tiba-tiba bu Muhammad ngomel-ngomel tak karuan. "Masak piknik koq wajib. Emang kita ini anak sekolah? emang ga ada kerjaan lain? emang kalau hari libur kita bisa bebas? Kita mau enak-enakan sementara suami ma anak dirumah" ungkapnya tanpa henti didepan suaminya. Pak Muhammad, keningnya berkenyit dan perlahan menjawab "Ada apa sih ma? koq tiba-tiba sewot begitu".

Ternyata bu Muhammad baru saja diberitahu bu Yota bahwa minggu depan PKK RW akan piknik ke sebuah tempat wisata, out bond istilah kerennya. Dan tiap ibu-ibu wajib membayar seharga Rp 75.000 berangkat atau tidak. Bisa tidak berangkat asal ada yang menggantikan. Namun yang membuat bu Muhammad marah ada banyak kejanggalan.

Di tingkat Rw, bu Sari paling getol ngajak-ajak piknik. Awalnya saat suami jadi Rt, mengajak piknik tapi semua bayar sebagai tanda perpisahan suami dari Rt. Tentu warga tidak mau sebab pak Sari jadi Rt justru melorot tingkat kepedulian warga. Tidak ada kerja bakti, kegiatan ronda ga jalan, menengok warga ga kompak, uang dari desa ga jelas dan masih banyak persoalan lainnya. Rupanya motivasi piknik masih saja berlanjut hingga di level Rw.

 Anehnya saat memberitahu bu Muhammad dibilang hanya 2 orang yang belum bayar yakni bu Muhammad dan bu Sahid. Ternyata bu Unca, bu Yota juga belum membayar. Yang jelas dengan paksaan itu bu Muhammad justru tidak mau berangkat. "Lebih baik kalian bersatu dan buat malu tuh bu sari" saran suami bu Muhammad. "Bagaimana caranya pak "Sahut bu Muhammad penasaran. "Semua bayar tapi sama-sama tak berangkat. Biar malu sekalian"saran suaminya.

Menurut ibu tiga anak ini tidak mudah membuat kekompakan diantara ibu-ibu. Apalagi terkait duit dan piknik. Bu Andi yang tergolong kaya saja mau berangkat dan menyayangkan uang sebesar itu. Singkat cerita, bu Muhammad berhasil membujuk bu Utomo, RT saat ini untuk menggantikannya. Apalagi bu Sari menakut-nakuti "namanya bu Rt harus berangkat bu supaya pada kenal "bujuknya dengan rayuan maut. Bu Utomo akhirnya tak berkutik.

Sebelum bu Utomo membayar ternyata bu Muhammad sudah terlebih dulu melunasi kewajibannya sebab dibilang bu Sari hanya 2 orang yang belum membayar. Nah karena bu Utomo membayar, otomatis bu Yota akan mengembalikan dana milik bu Muhammad. Pada perjalanannya, bu Yota ditelpon bu Sari untuk mengembalikan dana bu Muhammad separo saja. Sisanya dipakai untuk membeli oleh-oleh. Karuan hal ini menimbulkan pertanyaan besar di benar bu Yota.

Tak mau menanggung beban, bu Yota bercerita pada bu Muhammad. Sungguh sebuah hal yang tak diduga, bu Sari yang memiliki 2 rumah, 1 mobil dan anak cuma 1 sampai sebegitunya dengan uang. Bu Sahid yang tak jadi berangkat akan tetap ditarik iuran. Padahal ibu-ibu PKK lainnya sudah tak memperbincangkannya. Pak Muhammad merasa pening mendengar cerita istrinya, ternyata bu Sari itu miskin, miskin hati!

Selasa, 10 April 2012

Tak Ada Saudara Dalam Kamusnya

|0 komentar
Di Kampung ini tinggal orang-orang unik yang sulit dipikir dengan akal sehat. Ada yang kaya tapi sok miskin dan sulit duit keluar untuk urusan apapun. Meski dari keluarga mapan namun kikirnya tak terhitung dan bikin tetangga geleng-geleng kepala. Ada yang miskin dan kehidupannya membaik namun tetap menganggap dirinya miskin. Sukanya mengkritik tetangga, semua dianggap memusuhi dirinya. Jadi matanya selalu menelisik dan menaruh curiga.

Untungnya masih ada orang baik yang mengimbangi kehidupan jadi lebih menyenangkan.

Ceritanya pak Ren kedatangan saudara istrinya yang datang tanpa diundang. Wong memang tidak ada acara apa-apa dan dirumahnya memang tak pernah ada acara. Saat pindahan, tak ada tasyakuran. Anaknya khitan, tak ada tasyakuran. Anaknya Lulus ya sama saja dan hanya menjanjikan yang nggak-nggak. Kalau lolos SNMPTN mau nyumbang lah, mau makan-makanlah dan janji lainnya.



Pak Ren mengucapkannya pada pak Untung. Kabar ini didengar oleh pak Muhammad yang langsung dijawab ketus "ah orang mau nyumbang, mau sodaqoh koq cerita-cerita. Ya nyumbang aja" sungutnya. Anak pak Ren akhirnya gagal dan berita makan-makan sekedar jadi berita. Gimana mau makan-makan, uang Rp 500 perak terjatuh di pos ronda dicari sampai tikar diangkat (meski ada orang duduk) sampai ketemu. "Lumayan untuk beli kacang" kata Pak Ren dengan wajah sumringah.

Kembali ke cerita saudara pak Ren datang, suatu malam tumben pak Ren masih nongkrong di warung. Tak seperti biasanya ngadem dirumahnya yang memang dilengkapi AC. Biasanya bila berada diluar ya sedang nunggu mobilnya ngobyek cari duit. Beberapa orang yang ada disitu tak memikirkannya. Singkat cerita, begitu pukul 23.45, dia berpamitan pulang dan ditanya pak Untung "kemana pak?". "Mau tidur, pasti sudah sepi jadi sudah enak" jawabnya.

Begitu pak Ren masuk rumah, pak untung nerocos tanpa ditanya warga yang hadir disitu. Ternyata saudara istrinya datang. Rumah sudah seperti kapal pecah. Dia kebingungan mau ngapain dirumah dan merasa tak betah disitu. Pun bila rumah kotor, dia tak mau menyapu atau mengepel. "Biar mereka ngepel sendiri" kata pak Ren yang ditirukan pak Untung. Oh ternyata begitu tho? Itu baru saudara yang datang, bagaimana dengan orang lain yang menginap?

Minggu, 05 Februari 2012

Pergantian Ketua Rt

|0 komentar
Pak Sari resmi berhenti jadi Ketua Rt dan digantikan oleh pak utomo bulan lalu saat rapat bulanan di rumah pak Muhammad. Respon warga biasa saja malah banyak yang bersyukur karena memang kinerja pak Sari sangat rendah. Layaknya anggota DPR saja, banyak janji, tak banyak melakukan sesuatu dan sebagai Ketua Rt yang harusnya sering keluar menyambangi warga, dia malah ngendon saja dirumah.

Hal ini berbalik dengan pak Utomo yang rajin keluar, bertegur sapa, ramah dan mau berkorban. Sebenarnya pak Ardi adalah pesaing terberat pak Utomo. Hanya karena bu Ardi tak menghendaki serta pak Ardi belum genap setahun jadi warga maka warga lebih memilih pak Utomo. Pemilihan melalui kertas suara cukup menarik sebab suara yang masuk lumayan banyak.

Biasanya bila ada pergantian ketua Rt, warga jarang yang nongol sebab takut terpilih. Cuma info 2 kandidat itu telah menyebar wajar saja bila tak ada yang khawatir terpilih. Awalnya pak Utomo menolak cuma beberapa warga lain berusaha meyakinkan bahwa dia bisa, akhirnya bersedialah dia. Dan pesaingnya, pak Ardi diletakkan pada posisi Wakil Ketua Rt sebuah jabatan yang belum pernah ada.

 Harapannya agar ada yang mendampingi dan memberi banyak pertimbangan. Terpilihnya pak Utomo seharusnya menjadi optimisme bagi warga kampung Ganjil apalagi dibandingkan pengurus lalu yang hampir tak ada motivasi. Pak Untung mengakui, kinerja pemerintahan Rt periode sebelumnya buruk dan sebagai sekretaris dia merasa tak dihargai.

Dalam kepengurusan sempat akan ada perpindahan jabatan yaitu pak Muhammad akan dikembalikan ke seksi sosial setelah pada rapat diminta sebagai seksi pembangunan. Rupanya pak Parto yang akan dipindah ke seksi pembangunan tidak berkenan dan minta di posisi sosial. Meski banyak yang tahu kinerja pak Parto sangat lemah.

Pembelajaran kali ini adalah, bila kita menghargai tetangga kita maka respon atau dukungan untuk menjalankan tugas akan lebih optimal. Saat di pegang pak Sari, bisa dibilang tanpa dukungan. Hal ini diperparah oleh perilaku bu Sari yang suka sok ngatur sehingga respect warga merosot.

Kamis, 08 Desember 2011

Bentakan Di Kampung Ganjil

|0 komentar
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) disadari atau tidak ternyata mudah dilakukan oleh para orang tua. Sayangnya tidak banyak masyarakat yang faham apa itu KDRT, Apa saja bentuknya, dampak apa yang ditimbulkan, kenapa tidak boleh melakukan KDRT dan lain sebagainya. Kekerasan yang muncul tidak saja fisik namun psikis juga masuk dalam kategori itu bila membuat drop secara psikologis. Demikian juga yang terjadi dilingkungan kampung ganjil ini.

Siang itu seperti biasa, pak Muhammad sedang bercanda dengan anak istrinya diruang tv. Tiba-tiba terdengar bentakan, tangisan dan beberapa benda yang terbentur tembok. Pak Muhammad meyakini itu suara dari tetangga sebelah yaitu pak Ripi. Bukannya mereda, tangisan justru tambah keras. Pak Muhammad tak bisa berbuat apa-apa, demikian juga istrinya meski bathin merasa tersiksa.

Keluarga itu memang dikenal keras dan tidak jarang terjadi keributan. Entah pak Ripi dengan istrinya, pak Ripi dengan anaknya, istri pak Ripi dengan anaknya atau antar anak. Mereka seperti tidak peduli apakah lingkungan mendengarkan pertengkaran itu atau tidak. Dalam sebuah perbincangan, pak Yota mengakui sering terganggu namun tidak bisa berbuat apa-apa. "Anak saya sebenarnya mengeluh tapi ya dibiarin aja wong mereka ga peduli dan ga punya malu" kata pak Yota suatu saat.

Sudah sejak lama pak Ripi sekeluarga dikenal keras dan tidak peduli dengan lingkungan. Rapat rutin RT saja hampir tidak pernah diikuti kecuali dirumahnya. Dia tidak ambil pusing mau dikatain tetangga atau ga. Ternyata pertengkaran siang itu didengar pak RT yang merasa prihatin dengan tangisan anak pak Ripi yang cukup kencang. Khawatir terjadi sesuatu, pak RT mendatangi rumah pak Ripi dengan maksud melerai pertengkaran tersebut.

"Assalamu'alaikum" ucap pak RT didepan gerbang rumah pak Ripi yang dijawab "Ngopo" dengan bentakan keras dari dalam rumah. "Pak Ripi masih marah" tanya pak RT dengan lembut. Bukannya jawaban yang keluar malah pintu dibanting dengan keras. Kaget mendengar hal itu, pak Muhammad melongok keluar dan terlihat pak RT berjalan menuju ke rumahnya dengan langkah gontai. "Wah keterlaluan tu pak Ripi, masak pak RT dibentak gitu" ungkap pak Muhammad pada istrinya.

Rupanya pak Ripi sudah putus saraf malunya sehingga seenaknya saja dia berbuat. Benar-benar orang yang tak menghormati sekelilingnya. Atas kejadian itu, beberapa warga yang mendengarnya malas datang ke rapat rutin yang kebetulan bertempat dirumah pak Ripi. "Saya sih sudah sejak lama berniat tak pernah datang ke rumah itu tanpa kepentinganku"batin pak Muhammad. Sudah selayaknya memang pak Ripi mendapat sanksi sosial agar tak seenaknya berbuat.

Minggu, 09 Oktober 2011

Pak Sari Menuai Sikap Warga

|0 komentar
Pak Muhammad tahu ibu bu Sari sakit di rumah sakit dari istrinya sesaat setelah pulang dari arisan. Istrinya menanyakan apakah bapak-bapak akan segera nengok. Namun pak Muhammad justru diam saja dan asyik dengan perbincangan dengan dirinya sendiri dalam hati. "berat rasanya mau berangkat kalau dia juga seenaknya begitu" tutur hati kecil pak Muhammad. Selang beberapa hari, ibu-ibu di komplek itupun berangkat menjenguk ibu bu Sari dan istri pak Muhammad tak turut serta.

"Masih ngeloni anak tuh bu" jawab pak Muhammad saat bu Kiky nyamperin bu Muhammad. "Ditinggal saja bu" lanjutnya dan ibu-ibu kampung ganjil pun berangkat. Saat malam tiba, di wedangan pak Untung, pak Muhammad ditanya pak Untung kapan akan jenguk ibunda bu Sari. Seperti tak berselera, dia menjawab sekenanya saja. Rupanya sebelum pak Muhammad datang, pak Untung sudah menanyakan pada beberapa orang warga yang jajan disitu.

Jawabannya hampir seragam, tak berniat menjenguk. Padahal pak Sari adalah Ketua RT diwilayah itu dan sudah hampir 2 tahun menjabat. Rupanya sikap pak Sari yang mengakibatkan hal itu. Bulan sebelumnya saat takziah ke rumah pak Klewer (karena ibu bu Klewer wafat) pak Sari sudah ditanya pak Untung. "Malam ini ndak bisa dan besok belum tahu, nanti saya kabari yah" jawab pak Sari sekenanya pada pak Untung waktu diajak takziah malam itu. Karuan jawaban itu membuat sewot beberapa orang warga.

Sebagai orang yang ditokohkan, mestinya pak Sari memberi contoh yang baik. Mau aktif keluar, menyapa warga, mandegani beberapa kegiatan bukan seperti pejabat negara yang tinggal memerintah dan merasa ingin dihormati. Inilah yang menyebabkan kekecewaan warga RT dikampung ganjil. Sikapnya yang seperti pejabat membuat muak warga. Bila diingat, sejarah terpilihnya pak Sari sebagai Ketua RT tidak seperti ketua RT sebelumnya yang selalu menolak ketika dicalonkan.

Dia justru langsung menjawab bersedia ketika ada yang mengusulkannya. Padahal waktu itu yang usul hanya 1 orang dan diiyakan 1 orang lainnya. Dulu saat ada voting pemilihan RT, jumlah suara dia kalah dengan pak Muhammad karena cuma 1 suara yang didapat. Namun memang suara terbanyak diperoleh pak Sri sehingga otomatis pak Sri yang menjadi ketua RT. Dari kejadian ini, seharusnya pak Sari belajar banyak bagaimana harus menghargai warga.

Senin, 12 September 2011

Layat Harus Naik Mobil

|0 komentar
Menengok orang sakit tentu sudah menjadi budaya dalam tradisi masyarakat di Indonesia. Tidak hanya sekedar sebagai sikap keprihatinan namun juga membangun interaksi sosial. Kini budaya itu kian terkikis hingga secara individu, orang tak tertarik lagi dengan tengok menengok orang sakit. Di Kampung Tanya, menengok orang sakit tarifnya sudah ditentukan dan dibayar oleh iuran. Kalau secara individu mau menambahkan ya tentu tidak dilarang.

Untuk soal menjenguk orang sakit, di kampung ini ada 2 orang yang terkenal agak repot. Entah repot fisik, materi ataupun repot hati. Repot fisik itu ya dimaknai dengan tidak bisa ikut menjenguk, datang atau bahkan mendoakan si sakit supaya sembuh. Repot materi itu selain patungan tambahan juga mengeluarkan kendaraan untuk berangkat ke rumah si sakit dan repot hati adalah tidak ikhlas bila tetangga mereka nengok atau si sakit ditengokin.

Kedua orang itu yakni pak Kabar dan pak Ren. Pak kabar ini memang dikenal paling irit dalam soal apapun. Jangankan menengok orang sakit, ikut pertemuan rutin saja juga suka milih. Kalau yang ketempatan orang mampu maka dia meluncur dan bila penyelenggara orang biasa saja, jangan harap batang hidungnya kelihatan. Sedangkan pak Ren selain tak mau patungan, mengeluarkan kendaraan juga merupakan beban tersendiri. Ada banyak cerita soal mereka berdua ini.

Terakhir pada malam Jum'at lalu ketika layat simbah dari pak Untung, pak kabar beralasan tidak bisa ikut kalau tak naik mobil. Pak Ren juga awalnya tak ikut namun karena pak Yota bawa mobil maka segera bergabung. Ketika diajak patungan, rupanya tak menolak karena ternyata dia menduga yang meninggal adalah ibu dari pak Untung. Di perjalanan, pak Ren terus saja nerocos siapa yang meninggal. Apakah orang tua atau simbah dari pak Untung.

Sewaktu sampai di lokasi, kecutlah muka pak ren karena yang wafat memang simbah dari pak Untung. Padahal pak Ardi yang awalnya tidak mau ikut karena sedang tidak enak badan akhirnya gabung juga begitu tahu pak Yota mengeluarkan roda empat. Sementara itu pak Wijo meski sendirian naik motor (karena mobil sudah penuh) tetap hadir. Pak Wijo ini cukup arif menyikapi berbagai persoalan di kampung Tanya. Dia sendiri pernah menjadi Ketua RT dan kepemimpinannya bisa dinilai berhasil.

Dimanakah pak Sari sebagai Ketua RT malam itu? Ternyata dari bapak-bapak yang berangkat takziah, tak ada satupun yang mau menghubungi dan mengajak melayat. Padahal pak Sari bisa dan pasti membawa mobilnya untuk jalan. Pak Yota sebagai bendahara juga hanya bertanya didalam mobil jelang berangkat dan tidak mau menelpon sendiri. Rupanya para bapak itu faham bahwa Ketua RT tidak cukup mendapat hati sehingga tak melibatkan dia pun, warga tak masalah. Tidak dianggap.

Bahkan saat sampai di lokasi takziah, pak Muhammad sempat menanyakan pada pak Untung apakah pak Sari diberitahu? dijawab tidak. Dia juga tak menyangka bila yang melayat cukup banyak soalnya dia hanya sms ke 4 orang saja. Itupun ditambahi embel-embel untuk orang-orang dekat saja. Kalau begitu, masih adakah kebanggaan bagi pak Sari atas posisinya? Kasihan juga kalau dia tidak faham dan tak merasakan bahwa warga kampung Tanya tak menganggapnya sebagai Ketua RT.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Pernikahan Ketiga

|0 komentar
"Ada hantaran dari ibu Minang, ada tasyakuran" kata bu Uta pada pak Muhammad sesaat sebelum keluar bersama anak istrinya. "Terima kasih" jawab Muhammad singkat. Dia sengaja tak menanyakan tasyakuran apa sebab malam kemarin dirinya mendengar berita pernikahan Bu Minang dengan Pak Breb. Tak ada keterkejutan apapun.

Warga kampung Tanya sudah banyak yang tahu tentang kiprah ibu Minang yang menjanda 2 tahun lalu. Sebelumnya sudah digeruduk warga karena menginapkan pak Breb tapi tingkat cueknya sudah sangat akut sehingga dia tetap santai saja. Malah menyuruh pak Ripi, tetangga depannya untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang memprovokasi serbuan malam itu.

Ilustrasi
Tingkah lakunya benar-benar sudah memuakkan. Pernikahannya ini merupakan ketiga kalinya. Pertama memiliki suami dan ditinggal karena wafat. Sebelum benar-benar bangkrut, dia menikah lagi dengan pak Jak. Awal pernikahan kelakuan mereka begitu belagu. Entak kesombongannya karena kekayaannya atau watak dasarnya.

Yang jelas semakin tahun usahanya semakin karut marut hingga ludes tak berbekas. Pak Jak sendiri tak peduli justru pindah ke jakarta dan jarang pulang. Saat menjalani kehidupan dengan pak Jak, dia mengambil anak perempuan. Dengan suami pertamanya sudah memiliki anak laki-laki yang kini bersekolah di SMK. Sementara anak perempuannya sudah SD kelas VI.

Meski menjabat sebagai sekretaris PKK dan hampir tiap malam mengaji dengan mendatangkan guru serta berpakaian muslimah namun kelakuannya jauh dari dijaga. Berbicaranya pun tak sopan dan asal-asalan bahkan cenderung kotor. Pak Ripi memastikan bu Minang ini hatinya penuh iri dan dengki. Sudah banyak tetangga yang jadi korban hasutannya.

Kawan karibnya bu Uta selalu setia menemani hari-harinya. Sebenarnya jauh-jauh hari ada banyak teman di perumahan itu tetapi karena kelakuan atau tindakannya semakin merugikan, akhirnya satu persatu kawan karibnya meninggalkan dia. Malam itu, mobil pak Breb diparkir di depan rumah tanpa was-was ban di gembosi para tetangga.

Mereka berdua juga tenang melewati entah malam keberapa bagi mereka sebab sudah beberapa kali pak Breb tidur dirumah itu sebelum menikah. Pak Breb sendiri adalah duda beranak tiga yang berdasar cerita pak Ardi (kebetulan berteman dengan ibu Breb sebelum cerai). "Cocok mereka berdua karena sama-sama bermulut besar" tukas pak Ardi setelah malam grebekan itu.