Kamis, 13 Maret 2014

Menimbang Kekuatan PKS Di Pemilu 2014

Profil Partai Politik Peserta Pemilu 2014

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini sebenarnya salah satu (atau hanya satu-satunya) partai kader di Indonesia. Kenapa bisa dibilang begitu? Karena memang partai yang melandasi sistem di internal partai benar-benar berjenjang dari bawah. Banyak kita tahu partai di Indonesia mudah menerima pihak luar yang langsung nangkring di pengurus wilayah (propinsi) maupun DPP (pusat) tanpa melalui tahapan kader dari bawah. Terutama bagi kepala daerah, menteri, staf ahli yang bergabung dengan partai seakan mendapat previledge khusus.

PKS didirikan pada 20 Juli 1998 dengan nama Partai Keadilan langsung bertarung di Pemilu 1999 yang berhasil meraih suara 1,4 juta. Dibawah kepemimpinan Nur Mahmudi Ismail sebagai presiden partai, meloloskan 7 kadernya sebagai wakil rakyat di Senayan. Nur Mahmudi sendiri kemudian menjabat sebagai Menteri Kehutanan ketika ditawari Presiden Abdurrahman Wahid. Posisi Presiden Partai Keadilan kemudian dijabat oleh Hidayat Nur Wahid. Berhubung suara partai tidak menembus attembus accord, kemudian mereka mengganti nama menjadi PKS.

Rupanya performa PKS dibawah kepemimpinan Hidayat mampu mendongkrak popularitas maupun kepercayaan masyarakat. Kader-kader yang ada di DPR RI maupun DPRD Propinsi benar-benar tampil santun, sederhana dan agamis. Tutur katanya di media membuat simpati masyarakat sehingga dalam Pemilu 2004 perolehan PKS melonjak tajam. Dari suara 1,4 juta menjadi 8,3 juta suara pada Pemilu 2004 yang meloloskan 45 kadernya menjadi wakil rakyat dipusat. Lima tahun berikutnya tingkat kepercayaan pemilih juga masih kuat sehingga perolehan suara meskipun prosentase tidak besar namun wakil rakyat yang di DPR bertambah.

Pada 2009 PKS berhasil menempatkan 57 wakilnya atau masuk 4 besar parpol dengan perolehan suara terbanyak. Atas raihan ini, menjadi tonggak sejarah wakil PKS menjabat sebagai salah satu Wakil Ketua DPR RI yang dijabat oleh Anis Matta yang dalam struktural partai memegang Sekjen PKS. Sayangnya memasuki tahun 2010, performance PKS mulai goyah. Ada beberapa kadernya yang kemudian tersangkut masalah hingga puncaknya di Tahun 2013, Lutfi Hasan Ishaq yang menjadi Presiden PKS ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terkena dugaan kasus suap impor daging sapi.

Hal ini menjadikan partai berbasis massa Islam segera bergerak cepat supaya performance di Tahun 2014 terpengaruh. Posisi Lutfi segera digantikan oleh Anis Matta yang memang sudah menjabat sebagai Sekjen sejak didirikan hingga 2013. Masalahnya rentetan kasus LHI tidak sekedar soal suap impor daging sapi melainkan mengenai dugaan pernikahan keduanya dengan seorang gadis SMA dan kekayaannya yang luar biasa. Meski disaat bersamaan banyak kader PKS berhasil membuat prestasi tak urung persepsi publik sulit dibendung apalagi cukup banyak media massa dikuasai oleh orang-orang dari parpol lain.

Di Jawa Barat, PKS sebenarnya cukup mendapat tempat terbukti kadernya seperti Ridwan Kamil memenangi Pilkada Kota Bandung dan Ahmad Heryawan kedua kalinya menjadi Gubernur Jawa Barat. menarik sebenarnya menebak prospek perolehan partai ini di 2014, apakah akan turun, tetap atau justru naik? Semua bisa saja terjadi. Catatan penting yang perlu diperhatikan, Anis Matta sebagai Presiden PKS terlihat mampu mengkonsolidasikan seluruh kekuatan partai dan mengalihkan isu dari soal dugaan suap menjadi penggerakan seluruh kadernya memainkan citra di media sosial.

Dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar