Rabu, 07 Februari 2018

COO Kompasiana Yang Naif

Saya tidak mengenalnya secara personal dengan Chief Operating Officer Kompasiana yang saat ini, Iskandar Zulkarnain. Hanya berteman via FB saja dan sudah lupa siapa yang duluan add. Dia menggantikan Kang Pepih Nugraha yang saat ini sudah mengoperasikan web sendiri yang lebih keren PepNews setelah sebelumnya ikut melahirkan Selasar. Setahu saya Iskandar pernah mampir solo ngajak bertemu beberapa Komposono (penulis Kompasiana) dari Solo. Kebetulan saat itu saya ada acara sehingga tidak sempat ketemu.

Dulu, Kompasiana cukup beken sebelum muncul berbagai media online yang menyita perhatian. Banyak penulis keren betah di Kompasiana serta ga yakin mandiri. Sebut saja Alifurrahman (Seword), Yusran Darmawan (Locita), Palti Hutabarat (Indovoice), Gunawan (Kabarkan) serta nama lain yang jadi andalan Kompasiana. Secara personal saya melihat Kang Pepih sanggup momong dan mengelola Kompasiana dengan baik.

Paska Kang Pepih out, diikuti berbagai penulis keren mendirikan website sendiri suara Kompasiana makin tidak terdengar. Jika dulu di WA atau FB sebuah tulisan sering di share, sudah lebih 6 bulan saya tidak menemukan orang share tulisan dari Kompasiana. Jangankan orang lain, si COO ini juga tidak mesti seminggu sekali share tulisan Kompasiana. Setidaknya hal ini mengindikasikan 2 hal yakni tidak ada tulisan keren yang  bisa dibagikan atau dia sendiri tidak memiliki kebanggaan dengan media itu.

Sebagai seorang pimpinan media online, seharusnya dia membangun interaksi dengan berbagai pihak dengan normal, wajar dan nyinyir. Tapi sepertinya hal itu entah disadari atau tidak, malah ditabraknya. Ada beberapa orang mutual friend kami namun hampir tidak pernah ada interaksi. Tidak usah dengan Kang Pepih yang  memang jauh lebih senior namun dengan penulis-penulis beken juga tidak terbangun. Status facebooknya lebih banyak nyinyir dibanding kritis dan secara pribadi saya menilai tragis seorang COO media online besar tidak mampu mengelola emosinya di ranah publik. Bagi kita para penulis yang sudah menghasilkan banyak tulisan, sangat jelas beda kritik dengan nyinyir.

Misalnya status FB soal Permendagri Pengajuan Surat Keterangan Penelitian (SKP), bukan hanya mengutip pemberitaan Tirto.id namun juga menyertakan kata Represif. “Jelang #pilpres2019, Presiden Jokowi menampilkan wajah pemerintahannya yg represif.” (status FB 7 februari 2018). Bagaimana bisa dirinya menggeneralisir sebagai represif? Saya setuju bahwa prosedur perijinan itu harus dicabut tapi menganggap itu tindakan represif sangat tidak masuk akal. Isjet (panggilan akrabnya) sangat faham bahwa kebijakan itu baru saja muncul. Kritik dan protes akan saya dukung karena saya juga tidak setuju kebijakan ini. Tapi menyebutnya represif terlalu mengada-ada.

Yang kedua, status “Esemka adalah Pilpres” 31 Januari lalu. Arah status ini dapat dimaknai sebagai tendensi ketidaksukaan pada presiden. Saya juga berkomentar disitu dengan menantangnya untuk jualan isu calon dia tapi dia menjawab tidak punya isu. Kemudian status-status yang lain terutama terkait dengan politik maka yang akan dimunculkan keburukan-keburukan dari partai yang tidak disukainya. Sedang kasus-kasus menyangkut politisi PAN, PKS atau Gerindra sangat minim. Termasuk polemik berbagai kebijakan Gubernur Jakarta seperti penataan PKL Tanah Abang, menggusur rumah bantaran sungai, DP 0 persen, pengoperasian kembali becak dan terakhir soal banjir. Pemberitaan banjir Jakarta sudah muncul sejak Selasa, 6 Februari 2018 sore namun selang sehari kemudian tidak ada status apapun soal banjir. Apalagi soal kaburnya Rizieq Shihab, statemen jelek dan pesek Abdul Somad ke Rina Nose, Caci makinya Sugi Nur Raharja, anti pancasilanya HTI dan lain sebagainya.

Sebagai pimpinan media online yang mengandalkan publik, seharusnya dia mampu membuat status-status yang menarik penulis-penulis pemula untuk nimbrung disana. Padahal secara materi saat ini Kompasiana jauh lebih banyak diiming-imingi uang. Itu kata teman saya yang masih aktif menulis. Jika secara pribadi mengelola keberpihakan diri saja belum bisa bagaimana media yang sudah terlanjur besar dikelola dengan kemampuan itu? Sejak Kang Pepih keluar saya sih tidak menemukan terobosan berarti atau inovasi dari Kompasiana. Tapi barangkali kita tunggu dimasa mendatang. 10 tahun lagi barangkali akan kelihatan perubahannya…….


0 komentar:

Posting Komentar