Tampilkan postingan dengan label Dari Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Media. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

Menjadi Narasumber di Redaksi Media Harian

|0 komentar
Jum'at (21/12) siang jelang sore tiba-tiba hp berdering. Seorang teman mengabarkan agar saya menggantikan dirinya berbicara tentang Analisa APBD di sebuah redaksi koran harian. Awalnya agak ragu sebab data yang dimiliki tak lengkap, tak melakukan analisis secara mendalam serta permintaan berbicara juga mepet. Jujur tak siap untuk presentasi. Katanya, akan ada yang menghubungi dari media itu, seseorang yang berasal dari kota kelahiran yang sama.

Benar juga, tak lama berselang telpon berdering. Ternyata kawan lain yang sudah dikenal dan menempati posisi redaktur. Katanya cuma diminta berbicara tentang bagaimana cara analisis APBD agar teman-teman wartawan faham dengan hal itu. Langsung saja saya cari berbagai dokumen tentang APBD, regulasi dan teknik menganalisanya. Yang agak membuat sulit adalah, mereka wartawan yang tentu memiliki analisa cukup mendalam. Bila tak menyampaikan hal yang menarik pilihannya 2 yakni kalau tidak didiamkan saja (tak ada pertanyaan) atau malah "diadili".

Menjadi peserta workshop (photo by YSKK)
Akhirnya saya susun puzle-puzle kecil atas ide yang berserakan, siapkan materi kasar dan baru disusun ulang. Untuk menguatkan argumentasi, saya sertakan pula analisa atas APBD Kabupaten/Kota Se eks Karesidenan kurun waktu 5 tahun. Untungnya data ini sudah siap dan memang sering dipakai untuk membuat analisis di blog kesayangan ini. Agak keteteran di soal regulasi karena memang sudah banyak yang diperbaharui sehingga apa yang bisa disajikan saja yang ditayangkan.

Setelah menunggu sebentar, sebelumnya ada semacam pengarahan dari redaktur-redaktur senior, waktu diberikan. Sekitar 30an jurnalis ada diruangan. Hemmmhh agak merinding juga berhadapan dengan mereka apalagi yang ditakutkan bila ada yang faham cukup detil tentang regulasi. Namun perasaan itu dibuang sebab jarang ada wartawan yang mau menghapal regulasi apalagi liputan mereka kewilayahan bukan sektor. Slide demi slide ditayangkan dan tak lupa contoh-contoh analisis.

Rupanya beberapa orang tertarik mengupas lebih dalam. Ada pula yang menyeret ke hal-hal yang terkait strategi mereka dilapangan yang semestinya bisa saya tolak. Kan mereka lebih jago dibandingkan saya. Data APBD se eks karesidenan yang ditampilkan lumayan membuat mereka tertarik. Beberapa diantaranya bahkan faham dengan tampilan itu serta memberikan respon. Sayangnya respon mereka masuk ke teknis bagaimana data bisa seperti itu. Nah itu bukan wilayah saya.

Akhirnya pertemuan berakhir pukul 22.15 dan masih ada juga yang mengejar dengan beberapa pertanyaan. Yang agak mengkhawatirkan yakni diumumkannya no hape sehingga semua tahu. Agak was-wasnya adalah permintaan komentar di semua kabupaten/kota untuk soal anggaran. Ini bukan soal kapasitas namun kesempatan bagi orang-orang lokal untuk tampil dan menunjukkan kapasitasnya.

Rabu, 27 Juni 2012

Bantuan Operasional Sekolah Rawan Penyimpangan

|0 komentar
Yogyakarta - Penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di Gunungkidul, dipertanyakan penggunananya , hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya penarikan uang oleh sekolah.

Menurut Nino Histiraludin, peneliti penggunaan anggaran dana BOS, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), Saat pihaknya tengah melakukan penelitian di beberapa sekolah terkait penggunaan dana BOS. Fakta awal menyebut, banyak orang tua wali mengeluhkan adanya pungutan dari sekolah seperti penarikan uang lks, atau kurikulum tingkat satuan

Menurutnya, hal tersebut menjadi tanda tanya besar mengenai efektifitas penggunaan dana BOS di sekolah. Selian itu, pelitnya sekolah memberikan informasi  Rencana Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS), juga semakin menguatkan adanya ketidakberesan (KTSP), Belum lagi, pembelian seragam yang dibalut dengan istilah daftar ulang.

Dari sini saja, ulas dia, sudah bisa diduga ada indikasi sekolah masih manarik uang dari wali murid. Bekerjasama dengan percetakan kemudian membuat LKS, atau buku pelajaran. Nino menanyakan, dimana posisi anggaran dana BOS ditempatkan.  Pengawasan dari inspektorat sejauh ini juga belum ada yang menyentuh permasalahan carut marutnya anggaran.

Ia menambahkan, selama ini masyarakat kesulitan untuk mengakses data bos disekolah.

Sementara terpisah kepala dinas pendidikan pemuda dan olahraga (disdikpora) Gunungkidul, Sudodo, mengatakan selama ini pengawasan dana bos sudah dilakukan di tingkat kabupaten, dan sampai saat ini belum menyimpangan.

Dia menjamin, tidak akan ada pungutan disekolah untuk tingkat SD-SMP apapun bentuknya, baik pungutan lks dsb, namun untuk sma sederajat masih dimungkinkan. jika ditemukan penarikan pihaknya memberikan sanksi tegasterhadap sekolah bersangkutan. (M.Yuwono/MKS)




Source : http://sindoradio.com/news/detail/1703/bantuan-operasional-sekolah-rawan-penyimpangan

Selasa, 25 Januari 2011

PNS bu­ang-bu­ang wak­tu ker­ja

|0 komentar
Pelatihan Penatausahaan Keuangan Daerah di Kutai Timur
Edisi : Senin, 24 Januari 2011 , Hal.1
Solopos

  Peng­un­jung su­dah pa­dat ber­hi­lir-mu­dik di Pu­sat Gro­sir So­lo (PGS), Ju­mat (21/1) pa­gi. Pa­gi itu, be­lum ge­nap dua jam pe­da­gang pu­sat per­be­lan­ja­an bu­sa­na ba­tik dan ane­ka pro­duk san­dang itu me­na­ta ba­rang da­gang­an me­re­ka.

Sem­ba­ri me­na­ta da­gang­an, me­re­ka pun me­nye­lingi ak­ti­vi­tas itu de­ngan ber­te­ri­ak-te­ri­ak de­mi me­na­rik per­ha­ti­an peng­un­jung yang ber­la­lu la­lang.

Ka­la ini ta­war­an se­o­rang pe­da­gang ter­tu­ju ke­pa­da em­pat ibu-ibu ber­pe­nam­pil­an kan­tor­an. Di­dam­pingi ti­ga re­kan­nya, sa­lah se­o­rang yang ber­ba­ju ba­tik mo­tif gu­nung­an me­na­nyai si pe­da­gang so­al mo­del bu­sa­na ba­tik te­ra­nyar. Se­pin­tas la­lu, me­re­ka tak tam­pak se­ba­gai pe­ga­wai ne­ge­ri si­pil (PNS) yang ke­lu­yur­an di pu­sat per­be­lan­ja­an pa­da jam ker­ja. Mak­lum sa­ja, me­re­ka me­nge­na­kan ba­ju ba­tik de­ngan mo­tif yang ber­lai­nan.

Ba­ru se­te­lah di­ta­nya so­al kan­tor tem­pat me­re­ka be­ker­ja, ter­ung­kap bah­wa me­re­ka ada­lah gu­ru-gu­ru di sa­lah sa­tu se­ko­lah me­ne­ngah per­ta­ma ne­ge­ri di Ko­ta Be­nga­wan. Ber­da­sar­kan peng­amat­an Es­pos, me­re­ka me­ma­su­ki are­al PGS pu­kul 10.45 WIB, ar­ti­nya ji­ka di­ku­rangi de­ngan se­ki­tar 20 me­nit wak­tu per­ja­lan­an me­re­ka da­ri se­ko­lah yang ber­ada di Je­bres, ma­ka da­pat di­sim­pul­kan bah­wa me­re­ka su­dah me­ning­gal­kan se­ko­lah se­ti­dak­nya se­jak pu­kul 10.25 WIB.

La­zim­nya ha­ri Ju­mat, se­ko­lah meng­ak­hi­ri ke­gi­at­an be­la­jar dan meng­ajar pa­da pu­kul 10.45 WIB atau 11.00 WIB. Na­mun pa­da ha­ri ter­se­but, me­re­ka meng­aku me­mu­tus­kan un­tuk me­ning­gal­kan se­ko­lah le­bih awal. ”La­gian su­dah se­le­sai meng­ajar­nya ju­ga,” ucap­nya sing­kat.

Ke­ti­ka di­ta­nya kem­ba­li apa­kah se­ring meng­gu­na­kan wak­tu seng­gang un­tuk se­ka­dar ja­lan-ja­lan di pu­sat per­be­lan­ja­an, mal atau­pun pa­sar, gu­ru itu meng­aku ja­rang me­la­ku­kan­nya ke­cua­li ada aja­kan da­ri te­man.

Sa­at di­ke­jar de­ngan per­ta­nya­an se­be­ra­pa se­ring men­da­pat­kan aja­kan te­man, ibu-ibu itu pun me­mi­lih bung­kam dan me­ning­gal­kan Es­pos.

Ti­dak kha­wa­tir

Tak ha­nya di Ko­ta So­lo, PNS di dae­rah lain pun tam­pak san­tai me­la­ku­kan ak­ti­vi­tas se­ha­ri-ha­ri me­re­ka. Pa­da ha­ri yang sa­ma di Ka­rang­anyar, ak­ti­vi­tas wa­ra-wi­ri PNS di Pa­sar Ju­mat Pa­gi pun bu­kan pe­man­dang­an asing. Se­ki­tar pu­kul 09.00 WIB, sa­lah se­o­rang pe­ga­wai Di­nas Pa­ri­wi­sa­ta dan Ke­bu­da­ya­an (Dis­par­bud) Ka­bu­pa­ten Ka­rang­anyar, se­but sa­ja Ami­ra dan re­kan­nya tam­pak di lo­ka­si itu.

Pe­rem­pu­an yang me­nge­na­kan pa­kai­an olah­ra­ga leng­kap de­ngan se­pa­tu sport ter­se­but tam­pak si­buk me­mi­lah-mi­lah bera­gam per­alat­an ru­mah tang­ga. ”Ta­di se­te­lah se­nam lang­sung ke si­ni,” aku­nya.

Ami­ra pun meng­aku ti­dak ter­la­lu kha­wa­tir ri­si­ko di­te­gur atas­an­nya ka­re­na ke­lu­ar sa­at jam ker­ja. Se­bab me­nu­rut dia ti­dak se­di­kit re­kan ker­ja­nya yang me­la­ku­kan hal se­ru­pa di­ri­nya.

La­gi pu­la, ki­lah­nya, dia te­lah me­nye­le­sai­kan tu­gas yang men­ja­di tang­gung ja­wab­nya, be­be­ra­pa ha­ri yang la­lu. ”Ju­mat kan ha­ri pen­dek. Ka­lau ti­dak ada pe­ker­ja­an la­gi, ya pu­lang,” ka­ta­nya en­teng.

Kon­di­si se­ru­pa pun ter­ja­di di sa­tu­an-sa­tu­an ker­ja pe­rang­kat dae­rah (SKPD) di Wo­no­gi­ri. PNS di sa­na te­per­gok Es­pos tak ber­ge­gas me­nye­le­sai­kan tu­gas me­re­ka seu­sai apel ru­tin pu­kul 07.00 WIB. Jam ker­ja me­re­ka ham­bur­kan un­tuk le­yeh-le­yeh sem­ba­ri me­ma­in­kan ga­mes di kom­pu­ter. Dua di an­ta­ra me­re­ka—se­but sa­ja Jon dan Tom—meng­akui ke­ge­mar­an me­ma­in­kan So­li­tai­re mem­bu­at pe­na­sa­ran. Me­re­ka pun meng­ha­bis­kan wak­tu ku­rang le­bih dua jam wak­tu ker­ja se­tiap ha­ri­nya un­tuk me­ma­in­kan ga­mes itu.

Ba­ru se­te­lah bo­san me­ma­in­kan ga­mes, me­re­ka ke­lu­ar ge­dung un­tuk sa­rap­an pa­gi dan meng­ha­bis­kan wak­tu hing­ga pu­kul 09.00 WIB de­ngan asyik meng­obrol ber­sa­ma re­kan ker­ja me­re­ka. Ru­ti­ni­tas ter­se­but ter­ja­di ham­pir se­tiap ha­ri.

Se­dot APBD

Ane­ka fak­ta tak di­sip­lin­nya PNS se­ja­ti­nya bu­kan hal ba­ru. Pe­mer­ha­ti ke­bi­jak­an pub­lik Ko­ta So­lo, Ni­no His­ti­ra­lu­din me­nye­but fak­ta ter­se­but bu­kan hal ”wah” atau men­ceng­ang­kan. Ma­sya­ra­kat, te­gas dia, su­dah la­ma di­su­gu­hi ki­ner­ja yang ku­rang op­ti­mal da­ri apa­rat pe­me­rin­tah.

Ang­go­ta Ko­mi­si I DPRD Kla­ten, FX Set­ya­wan pun be­be­ra­pa wak­tu la­lu me­nu­ding ba­nyak­nya PNS yang mem­bu­ang-bu­ang wak­tu ker­ja me­re­ka bu­kan la­gi ra­ha­sia. ”Bu­kan ra­ha­sia la­gi ka­lau di ka­lang­an bi­ro­kra­si ada dis­gu­i­sed unem­plo­y­ment atau peng­ang­gur­an tak ken­ta­ra,” tu­kas­nya wak­tu itu.

Tu­gas yang di­be­ban­kan ke­pa­da PNS ki­ni mes­ti­nya bi­sa me­re­ka se­le­sai­kan da­lam pa­ruh wak­tu ker­ja. Al­ha­sil ba­nyak si­sa wak­tu yang me­re­ka pa­kai ngang­gur. Di ka­lang­an pen­di­dik pun, lan­jut­nya, ada ke­sen­jang­an da­lam be­ban pe­ker­ja­an.

Ni­no His­ti­ra­lu­din la­lu meng­ingat­kan­nya bah­wa ki­ner­ja se­ma­cam itu bi­sa men­ja­di bu­me­rang ba­gi pe­me­rin­tah di ke­mu­di­an ha­ri. ”Pe­ker­ja me­re­ka ter­bia­sa san­tai, du­duk di kur­si aman dan gai­rah un­tuk ker­ja ce­kat­an pun me­ngem­pis,” tu­ding dia ke­ti­ka di­jum­pai Es­pos di kan­tor Pu­sat Te­laah dan In­for­ma­si Re­gio­nal (Pat­ti­ro) So­lo, Ra­bu (19/1).

Kri­tik tak ka­lah ta­jam di­lon­tar­kan Di­rek­tur Pat­ti­ro, An­dwi Jo­ko. Me­nu­rut dia kon­di­si ini se­ha­rus­nya men­ja­di per­ha­ti­an se­mua pi­hak. Ter­le­bih la­gi ka­re­na Ang­gar­an Pen­da­pat­an Be­lan­ja Dae­rah (APBD) ter­se­dot le­bih be­sar un­tuk meng­upah pa­ra PNS da­ri­pa­da un­tuk pem­ba­ngun­an yang ber­man­fa­at ba­gi ma­sya­ra­kat le­bih lu­as. ”APBD se­la­ma ini ter­se­dot pa­ling ba­nyak un­tuk ga­ji PNS lho!” tu­kas dia. - Oleh : Tim Es­pos : tus/shs/rei/asa/trh/hkt/fas/-isw/sry/mid/das

Senin, 19 November 2007

Dewan Monitoring Bansos 135 M

|0 komentar
dprdkutaikartanegara.go.id - 19/11/2007 11:40 WITA

UNTUK tahun anggaran 2007 Pemkab Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menganggarkan Bantuan sosial (Bansos) sebesar Rp 153 miliar. Padahal seperti pernah diberitakan sebelumnya, bahwa permohonan yang masuk ke bagian sosial telah melebihi Rp 153 miliar, yakni sekitar Rp 4,9 triliun.

Menyikapi besarnya permohonan yang masuk dan sekaligus mengefektifkan penyaluran Bansos, beberapa anggota DPRD Kukar meminta Pemkab, khususnya bagian kesejahteraan sosial (Kesra) agar lebih selektif menyaring dan menyalurkan bantuan untuk masyarakat itu.

Besarnya permohonan yang masuk tersebut telah menunjukan masih besarnya pula ketergantuangan masyarakat terhadap pemerintah daerah ini. Perihal inilah yang juga menjadi keheranan sejumlah anggota dewan Kukar.

H Ali Hamdi ZA SAg, Ketua Komisi IV, mengatakan, besarnya permohonan yang masuk ke bagian sosial tersebut tidak saja menunjukan masyarakat daerah ini masih menggantung pada pemerintah. Tapi juga menggambarkan lemahnya daya kemandirian masyarakat. �Ini memang persoalan yang sedang dihadapi pemerintah,� ujarnya, beberapa waktu lalu, di Ruang Komisi IV Kantor DPRD Kukar.

Menurut dia, besarnya permohonan yang masuk tersebut tidak semuanya mudah dikabulkan. Ada mekanisme dan evaluasi segala berkas yang masuk. �Ini dimaksudkan agar tidak terjadinya penyimpangan dan kesalahan dalam penyaluran dana,� kata Ali.

Lebih lanjut, Ali menjelaskan, bahwa dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No 13 Tahun 2006 menyangkut persoalan bansos, �Bantuan sosial dalam penyalurannya tidak bolah diberikan secara berturut-turut�.

Itu sebabnya, agar tidak terjadi pemberian bantuan yang terulang-ulang dengan nama orang atau lembaga yang sama, anggota dewan yang paling intens menyorot soal penyaluran Bansos di Kukar itu, menyarankan, agar pihak bagian sosial memiliki database yang dapat menghindari meledaknya permohonan yang masuk.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, penyaluran Bansos di daerah ini sempat mendapat sorotan tersendiri dari banyak kalangan. Tidak saja karena penyalurannya yang masih kurang tepat, tapi juga kurang transparannya pemberian bantuan untuk kesejahteraan masyarakat itu, menyebabkan Bansos kerapkali menyimpang dari program pembangunan.

Muhammad Histiraludin, pengamat ekonomi dari German Technical Cooperation (GTZ) Kaltim, mengungkapkan, besarnya pemohon Bansos yang seharusnya setiap tahun menurun pemohonnya, tidak dapat dilepaskan dari ketiadaan aturan yang jelas. �Harusnya ada aturan yang jelas dibuat pemerintah daerah ini menyangkut mekanisme pemberian Bansos,� ujarnya.

Dijelaskannya, dalam Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 45 ayat 2 menyebutkan: �Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diberikan secara tidak terus-menerus/tidak berulang seperti tahun anggaran, selektif dan memiliki kejelasan peruntukannya�.

Histiraludin juga mengatakan, harusnya Permendagri tersebut dijabarkan dalam SK Bupati dan peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang hal tersebut. �Ini penting untuk diketahui masyarakat sekaligus menghindari terjadinya penyaluran Bansos yang terulang-ulang pada satu lembaga,� tandasnya.

Sementara itu, G Asman Gilir menilai penyaluran Bansos di daerah ini masih senjang. Sekretaris Komisi IV itu, meminta, agar Pemkab lebih memperbaiki sistem penganggaran dan penyaluran bantuan untuk masyarakat tersebut. �Ini dimaksudkan agar tunjuan pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat tepat sasaran,� kata Asman kepada wartawan. (gu2n)

Source : http://www.dprdkutaikartanegara.go.id/bacawarta.php?id=938

Kamis, 09 Agustus 2007

Diskusi Alokasi Dana Desa

|0 komentar
Diskusi ADD

http://www.kutaikartanegara.com/news.php?id=1568